Kamis, 10 Januari 2019

Filem Nyai Dasima? Sama enggak dengan novelnya?



Hay, bertemu lagi dengan Sekar, setelah bertahun-tahun, bahkan Sekar sudah sampai lulus esatu dan udah mau lulus esdua lagi ( Amin, Ya Tuhan. Esdua menyenangkan, tapi waktunya mefet jadi tidak jadi menyenangkan)

 Dalam salah satu mata kuliah di esdua kemarin, Sekar mengikuti mata kuliah, yang menurut Sekar, sangat menarik. Namanya Sastra Bandingan. Kedengaran susah? Banget! Tapi rame? Sangat! Di setengah pertemuan terakhir, kami belajar untuk membandingkan novel dengan filmnya (apabila di Ekranisasi atau dilayarputihkan), atau sebaliknya, film dengan novelnya (apabila dinovelisasikan). Sekar sendiri membahas ekranisasi film  Sang Pemimpi, yang berasal dari novel populer karya Andrea Hirata dengan judul yang sama. Pembahasan itu dipresentasikan, sayangnya Sekar kurang cerdas dalam membahas ekranisasi novel tersebut. Sekar hanya sebatas membahas pengurangan dan penambahan dalam proses pelayar putihan novel tersebut, serta dampaknya pada hasil akhir plot cerita, terutama kepada para tokoh.

Tapi disini, Sekar nggak akan bahas hasil tulisan Sekar soal ekranisasi film Sang Pemimpi itu. Melainkan hasil tulisan Sekar atas bahan lain, yang dipresentasikan teman sekelas Sekar, dan film itu adalah Njai Dasima, atau Samiun dan Dasima.
Hasil gambar untuk nyai dasima oleh citra dewi
Add caption

Terdengar asing? Sekar juga bingung, itu apaan sih? Rupa-rupanya itu novel jaman penjajahan. Iya sih, pada saat itu, tahun 1970, Indonesia sudah merdeka. Tapi di Indonesia sendiri, beberapa "bule" masih menetap di Indonesia. Eh, Sekar belum nyebutin soal novelnya ya? Sekar sendiri sudah membuat review perihal novelnya melalui laman Good Reads. Sila periksa tautan berikut: Stefani Lestari's review of Nyai Dasima

Kembali ke ekranisasinya. Eh beneran ekranisasi gitu? Kata temen Sekar mah memang ekranisasi dengan beberapa perubahan. Oh really? FYI, di bukunya aja ada dua versi dari dua penulis, yaitu G. Francis dan S.M. Ardan. Long story short, dua penulis ini punya dua pandangan yang membuat  ceritanya berbeda juga. G. Francis nulis duluan, diksinya masih jaman penjajahan yang masih pake huruf 'oe', 'tj', 'dj', dan sebagainya. Sedangkan S. M. Ardan lebih modern, udah pakai bahasa betawi mengarah ke bahasa Indonesia baku.

Lalu apa lagi? Pola cerita, karena ada perbedaan antagonis serta protagonis. Di versi G. Francis, si tuannya Nyai Dasima baik banget. Ngasih perhiasan iya, ngasih baju iya, ngasih uang jajan pula. Tapi si Samiunnya jahat sekali. Mau melet iya, ngerampok iya, bahkan ngebunuh Nyai Dasima yang sudah ia rebut dari tuannya Nyai Dasima.
S.M. Ardan beda banget. Tuannya nyai Dasima jahat, tukang mabok, tukang judi. Ari di versi S.M. Ardan, malah Samiunnya yang baik banget. Paling bininya si Samiun yang jahat.

Terus gimana dengan filmnya? Beda banget dengan kedua novelnya, mungkin karenanya ada beberapa versi film Nyai Dasima. Versi Samiun dan Dasima, kata temenku, lebih mendingan, karena ada Mochtar Lubis sebagai penulis skenario. Yah, meski katanya terus Mochtar Lubis keluar karena ketika difilmkan, filmnya berubah banget.

Di film Samiun dan Dasima, Sekar rasa, mereka mau menyeimbangkan kebaikan dan kejahatan Tuan Edward dan Samiun, sebagai suaminya Nyai Dasima. Difilmnya, Tuan Edward baik banget, sayang anak, sayang istri, tapi sayang, tukang judi dan main perempuan. Tapi nggak pernah nyakitin Nyai Dasima secara fisik maupun psikis. Samiun? Dia tokoh yang paling beda dibandingkan novelnya. Sekeluarga ngaco. Istri pertama Samiun minta Samiun melet Nyai Dasima, terus tukang judi, bahkan mau ngerampok Nyai Dasima karena nggak mau nyerahin hartanya ke suami barunya, yakni Samiun.

Menurut pengamatan Sekar sih ya, di novelnya nggak bisa berpihak selayaknya Francis dan Ardan menentukan posisi. Pembunuhan Nyai Dasima memang kisah nyata, tapi kisah yang dipaparkan Francis dan Ardan menetapkan pandangan antara siapa yang jahat dan (kemungkinan) membunuh Nyai Dasima. Tuan Edward yang meskipun baik, tapi masih suka judi dan main perempuan, lupa istri dan anak di rumah. Sedangkan Samiun, dari awal mata duitan. Tapi dia kuat, bisa berantem, tipe-tipe pahlawan Betawi lah ya.

Tapi kenapa coba harus berubah? Kalau mau dibilang pelayar putihan, Sekar rasa tidak. Yah mungkin skenarionya memang berubah dibandingkan yang ditulis dari Mochtar Lubis. Tapi Sekar rasa, memang si pembuat film, Citra Dewi, memang membuat versi tersendiri. Jadi ini bukan pelayar putihan, tapi membuat gaya film sendiri. Paling plot atau kronologi ngikutin G. Francis dan/atau S.M. Ardan. Tapi sisanya, mereka buat sendiri.

Yah gitu deh, tinggal kita netapin posisi mau baca atau nonton filmnya. Menurut Sekar bagusan versi G. Francis, tapi filmnya juga asli, oke buat ditonton. Recommended? Lumayan, buat nambahin referensi film lama.

0 komentar:

Posting Komentar